Orang Tua dan Anak

Seorang anak tentu kadang kala berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan pandangan orang tuanya. Bilamana perbuatannya ini sering dilakukan, maka anak tersebut dikatakan sebagai anak nakal.

Sebagai seorang anak kecil yang alam pikirannya masih sangat sederhana, tentunya sering mendapatkan teguran dari orang tuanya. Terlebih-lebih seorang anak yang nakal tentu akan mendapatkan hukuman yang lebih berat.

Semua orang tumbuh dari bayi, lalu menjadi anak kecil, dan hingga sekarang. Sewaktu sebagai seorang anak kecil yang mempunyai orang-tua, tentu pernah mengalami dihukum oleh orang-tua, pengasuh, atau guru. Walaupun kadang kala bagi anak kecil tersebut merasa bahwa perbuatannya tidak salah, tetapi mengapa orang-tuanya melarangnya bahkan menghukumnya. Si anak kecil ingin berontak, tetapi apa daya karena takut dihukum lebih berat lagi.

Sungguh suatu keadaan yang ironis, bagi diri anak kecil ini. Dirinya merasa akan mendapatkan kesenangan dengan melakukan perbuatannya, tetapi akhirnya hukuman menyakitkan yang didapatnya.

Dirinya hanya harus menerima mentah-mentah nasehat orang tua bahwa dirinya dihukum demi kebaikannya sendiri, tetapi sebenarnya dirinya tidak tahu apa maksud kebaikan bagi dirinya. Yang diketahui bahwa orang-tuanya hanya melarang untuk melakukan lagi perbuatan yang menyenangkan itu. Inilah suatu proses belajar dan mengajar yang umum berlangsung sejak lampau hingga sekarang.

Sebagai seorang anak kecil yang sering merasakan sakitnya hukuman dari orang-tua, walaupun kadang kala pada awalnya masih merasa bingung karena tidak memahami apa sebabnya dilarang. Akhirnya hanya dapat menangis menahan sakitnya hukuman.

Rasa bingung, benci, kesal, dan takut bercampur aduk dipikirannya. Dirinya merasa ketidak adilan sebagai anak kecil yang tidak dapat melakukan apa yang disukainya, sedangkan orang tua dapat melakukan apa saja tanpa ada yang menghukumnya.

Memahami alam pikiran anak kecil yang masih polos dan sederhana, walaupun mereka kadang kala tidak mengetahui akibat dari perbuatannya karena ketidak-tahuannya. Harus kita akui bahwa mereka mencari kebahagiaan dan kesenangan terbaik sebatas jangkauan alam pikirannya, tetapi apa yang terbaik bagi menurut pandangan mereka bukanlah yang terbaik bagi orang tua. Orang tua mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas, sehingga mereka mengetahui kekeliruan pandangan dari para anak kecil.

Demikian pula para mahluk yang melakukan perbuatannya untuk mencari kebahagiaan dan kesenangan sesuai alam pikirannya masing-masing. Para orang dewasa berpikir bahwa perbuatan dan perkataannya adalah terbaik baginya, tetapi sadarkah mereka bahwa yang baik bagi mereka belum tentu yang terbaik menurut menurut Yang Maha Kuasa. Sadarkah para orang dewasa, jangan-jangan kita berkelakuan seperti anak kecil dimata para mahluk suci lainnya. Atau bahkan sebagai anak nakal, dimata Yang Maha Kuasa.

Sadarkah para orang tua bahwa ada suatu berkah yang sangat luar biasa bagi seluruh orang tua, pengasuh, dan guru. Dimana seorang anak kecil, walaupun kerap kali mendapat hukuman. Anak kecil itu dapat melupakannya.

Bayangkan bilamana setiap orang masih mengingat segala hukuman yang diterimanya sewaktu kecil. Bila mereka tidak melupakannya, tentu semua orang akan ingat berapa banyak ayah, ibu, pengasuh, dan guru mereka telah menghukum mereka. Sangat sedikit sekali kejadian yang dapat diingatnya dan tersimpan dihatinya, bila tidak tentu semua orang akan dendam terhadap orang tua, pengasuh, dan guru mereka.

Bersyukurlah para orang tua bahwa anak-anak tidak dipengaruhi oleh ikatan pikiran yang kuat, sehingga segalanya dapat diterima dan terlupakan. Bila anak menghukium orang tua walau hanya sekali saja, berapa lama pikiran ini mengikutinya ?

"Orang tua memarahi anaknya beratus-ratus kali, tetapi tidak ada pikiran yang membekas. Anak memarahi orang tua sekali saja, tetapi berjuta-juta goresan terpahat dalam pikirannya."

Yang Maha Kuasa tidak akan menghukum anaknya yang paling nakal sekalipun. Tetapi dengan maha pengasih yang luar biasa, Yang Maha Kuasa selalu mengirim para pembimbing kebenaran sepanjang masa. Para membimbing kebenaran sebagai penuntun bagi manusia agar sadar bahwa kebahagiaan yang mereka cari selama ini bukanlah kebahagiaan sejati, mereka hanya mengejar kebahagiaan semu dan tidak abadi yang tidak dapat menolong diakhir hidupnya.

Manusia kerap kali mengingkari Yang Maha Kuasa, tetapi sungguh suatu berkah bagi para mahluk bahwa Yang Maha Penciptaa selalu melimpahkan cinta, kasih , yang tanpa batas kepada manusia tiada hentinya.

Lihatlah bukankan setiap saat matahari tetap bersinar menerangi dunia. Inilah bukti yang sangat sederhana tetapi sangat disayangkan manusia tidak lagi memahami kebenarannya. Jangankan bersyukur atas berkah Yang Maha Kuasa menciptakan terang, berterima kasihpun tidak terpikir. Manusia lebih cenderung menganggap bahwa sudah menjadi tugas alamiah matahari untuk menerangi dunia.

Generasi Baru Abad 21: Generasi Platinum

Ketika masyarakat masih terpana dengan kehadiran generasi Y (Milenium), mereka tidak menyadari akan munculnya sebuah calon generasi baru yang lahir pada abad ke-21 yang lebih canggih dari generasi Y. Merekalah Generasi Platinum, yang lahir sesudah tahun 2000. Seperti apakah ciri-ciri, kesukaan, sikap, aspirasi mereka? Faktor-faktor dan kejadian-kejadian apa saja yang membentuk kepercayaan dan tingkah laku mereka?
Psikolog dari Universitas Paramadina, Alzena Masykouri, kepada ANTARA News mengatakan bahwa generasi itu lahir di masa keterbukaan teknologi, keterbukaan cara berpikir, keterbukaan berperilaku, serta ketersediaan sarana pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

“Penamaan sebagai Generasi Platinum oleh para pakar dunia sebetulnya cuma istilah saja, untuk membedakan generasi ini dari sebelumnya. Platinum sendiri mengacu pada sesuatu yang mewah dan elegan,” kata dia.
Dikatakannya, pada awalnya, hidup generasi yang disebut Baby Boomers. Generasi itu merupakan kelompok masyarakat yang hidup setelah Perang Dunia II yaitu antara 1946 dan 1964. Generasi ini diberi nama Baby Boomers karena pada rentang waktu generasi ini hidup, terjadi peningkatan jumlah kelahiran di seluruh dunia. Anak-anak yang terlahir di generasi ini merupakan golongan masyarakat yang mulai mengenal televisi dengan beragam acara yang berbeda-beda, seperti Perang Vietnam, pembunuhan John F Kennedy, Martin Luther King Jr, dan Robert F. Kennedy. Golongan masyarakat ini mengenal musik, sebagian besar adalah Rock n Roll, sebagai cara untuk mengekpresikan identitas generasi mereka.

Selanjutnya, lahir Generasi X yang lahir antara tahun 1965 hingga 1980. Anak-anak yang lahir pada generasi ini tumbuh dengan video games dan MTV, dan menghabiskan masa remajanya di tahun 80-an. Anak-anak remaja generasi X memiliki ciri-ciri, kurang optimistis terhadap masa depan, sinis, skeptis, tidak lagi menghormati nilai-nilai dan lembaga tradisional, serta tidak memiliki rasa hormat kepada orang tua mereka.

Di awal 90-an, media menampilkan Generasi X secara fisik sebagai generasi yang senang memakai kemeja flannel, suka menyendiri, banyak tindikan di tubuh, dan lebih memilih bekerja di restoran. Generasi Y, atau yang lebih dikenal sebagai Generasi Millennium, tumbuh seiring dengan banyak kejadian yang mengubah dunia, di antaranya berkembangnya komunikasi massa, serta internet.

Terminologi Generasi Y diberikan kepada anak-anak yang lahir dari tahun 1981 – 1995. Anak-anak remaja yang lahir pada generasi ini harus merasakan tingginya biaya pendidikan dibandingkan generasi sebelumnya. Generasi ini cenderung menuntut, tidak sabar, serta buruk dalam berkomunikasi dengan sesama. Survei yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa generasi ini memiliki kemampuan mengeja dan bahasa yang buruk.

Generasi Y yang telah bekerja menunjukkan sikap yang cuek dan senantiasa bertentangan dengan peraturan kantor. Namun, generasi ini boleh dipuji untuk energi dan semangat bekerjanya yang luar biasa.
Apakah generasi berhenti sampai di sini? Bagaimana dengan anak-anak yang lahir sesudahnya, yang lahir dengan segala ketersediaan sarana serta kemajuan teknologi?

“Ya, inilah anak-anak Generasi Platinum. Generasi Platinum adalah terminologi yang diberikan kepada anak-anak yang lahir pada tahun 2000 ke atas atau awal abad ke-21,” kata dia. Menurut Masykouri, jika diamati anak-anak kelahiran tahun 2000 memiliki karakter unik yang lebih ekspresif dan eksploratif selaras dengan arah perkembangan zaman.

Bila diamati, kata dia, anak-anak Generasi Platinum memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengakses dan mengakomodir informasi sehingga mereka memiliki kesempatan lebih banyak dan terbuka untuk mengembangkan dirinya. Kelak, mereka pun dapat menggunakan potensinya untuk bertahan hidup. Bahkan juga menjadi manusia yang berkualitas dan produktif. Generasi sebelumnya memang sudah memiliki tingkat literasi teknologi yang tinggi, namun mereka hanya sebatas sebagai pengguna saja. Generasi Platinum adalah golongan yang memiliki orientasi sekaligus kemampuan berkarya sehingga dapat berperan sebagai produsen, kreator, ataupun inisiator.

“Sesungguhnya ini tidak hanya untuk aspek teknologi saja, tetapi juga dalam setiap aspek kehidupan,” kata dia. Namun, kata Masykouri, jika ditelaah anak yang lahir pada abad ke-21 adalah hasil `produksi` orang tua (lahir di tahun 70-an), yaitu generasi yang sudah memiliki keinginan untuk mengoptimalkan potensinya. Orang tua mereka adalah umumnya orang-orang yang berpendidikan tinggi.
Alhasil, kemunculan generasi yang berbeda tak lepas dari pengaruh orangtuanya yang memiliki pandangan terbuka, dan lebih mudah menerima perubahan, terutama teknologi. Sementara itu, Ketua Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (UI) Dr. Paulus Wirutomo mengatakan bahwa pemisahan generasi tidak bisa dipakemkan karena meliputi banyak aspek seperti kondisi sosial, ekonomi, termasuk informasi.

Namun, perkembangan generasi bisa saja terjadi jika terjadi fenomena sosial yang mewabah artinya tidak dilihat dari lingkup yang kecil.
“Karakter manusia di setiap generasi tidak berbeda jauh karena manusia dibekali dengan kemampuan adaptasti. Namun ada perkembangan generasi. Yang membedakan individu di setiap generasi ialah `life skills` yang dimiliki,” kata Paulus Wirutomo. Hal senada dikemukakan sosiolog dari UI Drs Johannes Frederik Warouw MA. Dia mengatakan bahwa wajar terjadinya generasi pada setiap zaman akibat nilai baru dan nilai lama atau modifikasi kedua nilai itu. Setiap generasi, kata dia, pasti memiliki karakteristik manusia yang berbeda karena mereka selalu berhadapan dengan pandangan yang berbeda pula.
“Perkembangan itu wajar, tetapi keberadaannya perlu diawasi berkaitan dengan nilai. Karena, bila tidak diawasi bisa jadi malah menghancurkan nilai-nilai yang sudah ada,” katanya menambahkan. (*) Ditulis Oleh Yuri Alfrin Aladdin

sumber : http://www.antara.co.id/
image: http://img129.imageshack.us/img129/4880/shockedkidzatpcsmlb2.jpg
[ Terima kasih atas kunjungannya ke blog saya, jangan lupa kasih komentarnya juga, supaya saya bisa mampir ke blog anda. rajin - rajin mampir ya ]